I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of everyday's
Most quiet need, by sun and candle-light.
I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with a passion put to use
In my old griefs, and with my childhood's faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints, --- I love thee with the breath,
Smiles, tears, of all my life! --- and, if God choose,
I shall but love thee better after death.
Terus, akhirnya gw memberikan satu saran yang menurut beberapa temen gw sangat-sangat-sangat nyeleneh. I told her to end her relationship, karena daripada kalo diterusin akhirnya akan ada penyesalan, mendingan putus aja dari sekarang.
Harsh ya? Tapi, menurut gw it's as simple as that. Gak cuman masalah hubungan percintaan, dalam hidup, when you're hearts feels like it doesn't belong to it anymore, if you still had the chance, get out of it. Or if you decide to stick to it, then don't complain. Karena penyesalan hanyalah untuk orang2 yang kalah.
Seperti gw. Banyak banget penyesalan yang gw rasain, seperti: coba dulu gw berani ya ngedeketin si anu, mungkin sekarang gw bisa jadi sama dia, atau coba dulu jaman SMA gw diet beneran, mungkin sekarang gw bisa langsing bener, atau coba dulu gw rajin bantuin nyokap jualan daster, mungkin sekarang gw dah bisa buka usaha sendiri, blah blah blah, bluh bluh bluh.
Tapi, untungnya (atau ruginya ya?) gw adalah orang yang selalu mencoba konsekwen akan semua keputusan yang sudah gw ambil. Sayang memang dulu (sampe sekarang sih) gw paling males jualan karena gw selalu ngerasa kalo gw bukan seorang sales yang baik but at least now I have a decent job that i enjoyed, dan so what kalo gw gak bisa langsing, at least I know it's bad to throw up everything you eat (ha ha) and I look sexier with these curves of mine, dan yep it is a pity that I dont have the guts to tell si anu that I had a crush on him then, but I think I have a worthed relationship with si A, although plenty ups and downs along the way, but I think we can manage.
Namun mencintaimu, takkan kusesali...
Karena aku yang memilihmu..." (Audy - 2004)
Terus terang, 2 minggu terakhir ini hubungan gw ma si a bisa dibilang diujung tanduk. Setidaknya itu yang gw rasain, karena I think I feel numb. Alasannya simple, hanya karena he lied to me. Dan bohongnya pun tidak berkaitan dengan perempuan lain atau hal2 yang bisa bikin suatu pernikahan berakhir. Karena, disini yang tersakiti adalah hati gw. Gw merasa bahwa si a sudah melanggar prinsip gw, yang dari awal pun dia tau, bahwa gw gak suka dibohongin.
Gak tau kenapa, tapi dalam setiap hubungan, gw selalu merasa gak nyaman kalo dibohongin. Walopun hanya dalam kategori bohong kecil, tapi tetap, sekecil apapun bohong itu gw cenderung akan merasa sakit hati. Dan kali ini, si a melakukannya, dan itu membuat gw sakit hati, dan gw kalo udah sakit hati kadang bisa merembet ke hal-hal yang aneh bin ajaib.
Kemudian, setelah mencoba menata hati dan mencoba menyadarkan diri gw sendiri, bahwa apapun yang dia lakukan adalah karena dia tidak mau membuat gw merasa tidak nyaman, bahwa semua itu terjadi karena dia merasa belum mampu memenuhi semua ekspektasi gw (yang mana gw gak pernah membuat suatu batasan tentang ekspektasi gw *sigh*), gw mengajak si a untuk menyelesaikan semuanya. Dan hasil musyawarah tersebut adalah bahwa dia sadar bahwa dia telah menyakiti hati gw dan dia menyesali hal tersebut dan berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi.
Tapi, setelah itu, ternyata gw gak bisa dengan begitu saja menghilangkan rasa sakit dalam hati gw ini. Ternyata gak peduli berapa keras usaha gw (dan dia) untuk menata hati gw, rasa sakit itu masih ada dan hampir menggerogoti pertahanan gw.
At least until yesterday afternoon, where my fellow-ladies-worker and I had a short-yet-deep conversation about this marriage thing we had. This one lady were mentally abused by her husband, where her husband always talked about (and even once take her to 'catatan sipil' office just to asked the conditions of a divorce) getting a divorce over some small matter. The other lady ever caught her husband humpin' her maid in the next room, while she was pregnant. This conversation made me realize how shallow I was, that the problem I had was just a drop of water in the ocean, that I just making some excuses to my ego.
No more Mika... no more...
Gaji yang gw terima pun alhamdulillah melebihi perkiraan gw sebelumnya. Mendapatkan nominal yang sama dengan yang gw terima waktu gw kerja di Jakarta apa gak melebihi tuh namanya! Sudah itu, keluarga kecil gw bisa kumpul pun, yang mana itu saja sudah merupakan suatu rezeki yang tak ternilai. Selain itu, mendapatkan bonus berupa tambahan teman yang lebih dari menyenangkan dan baik.
Jadi ya begitulah, kalo gw cukup bersyukur, gw akan mendapatkan lebih dari yang gw inginkan. Dan kalo sudah begitu kenyataannya, gak ada lagi yang bisa gw ucapkan selain ALHAMDULILLAH...
Never lied to your partner-in-life...
N E V E R !!!!!
I know... I know... I often said this to myself, that the measurement of happiness is different to everybody. Tidak akan pernah sama. Bahwa semua orang telah ditetapkan kebahagiannya masing-masing. Bahwa sangat gak baik untuk selalu melihat ladang rumput tetangga dan alpa untuk menyirami ladang rumput sendiri. I know!
But I just can't help myself. I truly envy them. I envy how they seemed to love each other. I envy how they can travel with just the two of them. I envy how I seemed to be just a visitor in their love-world. I ENVY THEM!!! GOD!
Astagfirullahaladzim...
jika ia sebuah cinta.....ia tidak mendengar...namun senantiasa bergetar....
jika ia sebuah cinta.....ia tidak buta..namun senantiasa melihat dan merasa..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak menyiksa..namun senantiasa menguji..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak memaksa..namun senantiasa berusaha..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak cantik..namun senantiasa menarik..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak datang dengan kata-kata..namun senantiasa menghampiri dengan hati..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak terucap dengan kata..namun senantiasa hadir dengan sinarmata..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak hanya berjanji..namun senantiasa mencoba memenangi..
jika ia sebuah cinta.....ia mungkin tidak suci..namun senantiasa tulus..
jika ia sebuah cinta.....ia tidak hadir karena permintaan..namun hadir karena ketentuan...
jika ia sebuah cinta.....ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..
Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya
Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiaannya
Anyway... congrats to the newly-weds... Hope you do have a very happy ending... Like hopefully will be mine also :)
Wednesday, July 02, 2008
The weird thing about purchasing a condom in Indonesia
Setelah mengecek list belanja bulanan gw saat itu -yes, i am that organized, ha ha ha- gw mendapati ada 3 benda yang belum masuk ke trolley gw, yang mana benda2 itu hanya terdapat di section obat yang berada terpisah dari supermarket utamanya. Benda2 tersebut adalah Minyak Kayu Putihnya neng Icha, bedak compact gw, dan sebuah alat kontrasepsi khusus lelaki itu.
Sebenernya gw rada ragu untuk beli disitu, tapi mengingat wajah sedih si A setelah persediaannya sudah habis lebih dari seminggu ini dan tentunya kebutuhan gw sebagai wanita dewasa akan pentingnya 'olahraga' yang satu itu, maka dengan pembulatan tekad dan pengambilan nafas panjang terlebih dahulu, melangkahlah gw ke section obat itu.
Disana gw disambut seorang gadis, in her early twenties i presume:
Gw (M) : Mbak, Minyak Kayu Putihnya yang besar satu dong...
Simbak (S) : Ini bu? (sembari mengambilkan sebotol MKP segede gaban yang mungkin bisa tahan sampai 1 tahun ke depan)
M : mmm.... (berpikir ulang saking parnonya ngeliat betapa besarnya botol MKP itu) ada yang lebih kecil dari ini gak... kegedean deh kayaknya mbak...
S : Yang ini bu? (kali ini dia ngambilin botol yang memang biasa gw pake)
M : (Mengangguk sekilas sambil liat etalase bedak) Trus sama bedak yang itu dong mbak (nunjuk2 bedak)
S : (Mengambilkan bedak yang dimaksud)
M : (menarik napas panjang) Oya, SUTRAnya satu dong mbak... (sambil nunjuk etalase khusus kondom, dimana merek yang gw maksud itu terpampang dalam dus paling besar diantara yang lain dengan warna merah membara)
S : (mengikuti arah jari gw)
S : (sambil terus menatap gw dengan pandangan hah-gak-salah-bu-eeewww) apa bu?
M : Sutra satu mbak... (dengan senyum manis nan tulus sambil memberi pandangan hey-i'm-married-and-i-do-have-sex-with-my-husband)
S : Gimana bu? (sambil tetap dengan pandangan gak yakinnya)
M : KONDOM SUTRA SATU MBAK... (dengan suara 2 oktaf lebih tinggi, yang membuat beberapa simbak lainnya disekitar situ langsung menoleh dengan pandangan ingin tau, serta membuat adik gw mundur 2 langkah sambil cekikikan dan berusaha memberikan pandangan I'm-not-related-to-this-beautiful-woman-in-front-of-me ke orang2 sekitar)
S : I...iya bu (cepat2 menulis pesanan dalam nota belanja dan dengan kecepatan kilat mengambilkan pesanan gw yang bermasalah itu untuk kemudian DITARUH DIATAS ETALASE DEPAN PEMBELI, yang tentu saja MENARIK PERHATIAN semua orang yang kebetulan juga belanja di sana)
Setelah selesai membayar, dengan besar hati serta sambil tetap mengangkat kepala dengan gesture bodo amat ke pandangan orang2 sekitar akhirnya belanjaan itu gw masukin langsung ke tas gw (dan bukan ke keranjang belanjaan) biar sekalian meyakinkan orang2 dengan rasa ingin tahu yang berlebihan di sekitar gw itu bahwa emang gw gitu yang beli!
Uuhh... *keluh* gitu deh. Perasaan kondom seharusnya udah bukan barang aneh lagi kan? Pemerintah pun sudah mendukung penggunaan alat kontrasepsi ini karena dinilai mampu menekan angka penyebaran virus HIV, bahkan Julia Perez membagi2kannya di album dangdut perdananya itu kan? Tapi kok tetap ada aja orang yang menganggap bahwa beli kondom adalah suatu perbuatan memalukan ya? Apalagi untuk perempuan. Cape dueeeehhh...




