Wednesday, July 02, 2008
The weird thing about purchasing a condom in Indonesia
Setelah mengecek list belanja bulanan gw saat itu -yes, i am that organized, ha ha ha- gw mendapati ada 3 benda yang belum masuk ke trolley gw, yang mana benda2 itu hanya terdapat di section obat yang berada terpisah dari supermarket utamanya. Benda2 tersebut adalah Minyak Kayu Putihnya neng Icha, bedak compact gw, dan sebuah alat kontrasepsi khusus lelaki itu.
Sebenernya gw rada ragu untuk beli disitu, tapi mengingat wajah sedih si A setelah persediaannya sudah habis lebih dari seminggu ini dan tentunya kebutuhan gw sebagai wanita dewasa akan pentingnya 'olahraga' yang satu itu, maka dengan pembulatan tekad dan pengambilan nafas panjang terlebih dahulu, melangkahlah gw ke section obat itu.
Disana gw disambut seorang gadis, in her early twenties i presume:
Gw (M) : Mbak, Minyak Kayu Putihnya yang besar satu dong...
Simbak (S) : Ini bu? (sembari mengambilkan sebotol MKP segede gaban yang mungkin bisa tahan sampai 1 tahun ke depan)
M : mmm.... (berpikir ulang saking parnonya ngeliat betapa besarnya botol MKP itu) ada yang lebih kecil dari ini gak... kegedean deh kayaknya mbak...
S : Yang ini bu? (kali ini dia ngambilin botol yang memang biasa gw pake)
M : (Mengangguk sekilas sambil liat etalase bedak) Trus sama bedak yang itu dong mbak (nunjuk2 bedak)
S : (Mengambilkan bedak yang dimaksud)
M : (menarik napas panjang) Oya, SUTRAnya satu dong mbak... (sambil nunjuk etalase khusus kondom, dimana merek yang gw maksud itu terpampang dalam dus paling besar diantara yang lain dengan warna merah membara)
S : (mengikuti arah jari gw)
S : (sambil terus menatap gw dengan pandangan hah-gak-salah-bu-eeewww) apa bu?
M : Sutra satu mbak... (dengan senyum manis nan tulus sambil memberi pandangan hey-i'm-married-and-i-do-have-sex-with-my-husband)
S : Gimana bu? (sambil tetap dengan pandangan gak yakinnya)
M : KONDOM SUTRA SATU MBAK... (dengan suara 2 oktaf lebih tinggi, yang membuat beberapa simbak lainnya disekitar situ langsung menoleh dengan pandangan ingin tau, serta membuat adik gw mundur 2 langkah sambil cekikikan dan berusaha memberikan pandangan I'm-not-related-to-this-beautiful-woman-in-front-of-me ke orang2 sekitar)
S : I...iya bu (cepat2 menulis pesanan dalam nota belanja dan dengan kecepatan kilat mengambilkan pesanan gw yang bermasalah itu untuk kemudian DITARUH DIATAS ETALASE DEPAN PEMBELI, yang tentu saja MENARIK PERHATIAN semua orang yang kebetulan juga belanja di sana)
Setelah selesai membayar, dengan besar hati serta sambil tetap mengangkat kepala dengan gesture bodo amat ke pandangan orang2 sekitar akhirnya belanjaan itu gw masukin langsung ke tas gw (dan bukan ke keranjang belanjaan) biar sekalian meyakinkan orang2 dengan rasa ingin tahu yang berlebihan di sekitar gw itu bahwa emang gw gitu yang beli!
Uuhh... *keluh* gitu deh. Perasaan kondom seharusnya udah bukan barang aneh lagi kan? Pemerintah pun sudah mendukung penggunaan alat kontrasepsi ini karena dinilai mampu menekan angka penyebaran virus HIV, bahkan Julia Perez membagi2kannya di album dangdut perdananya itu kan? Tapi kok tetap ada aja orang yang menganggap bahwa beli kondom adalah suatu perbuatan memalukan ya? Apalagi untuk perempuan. Cape dueeeehhh...




